penulis ; Alfian Nur Muzaki (XII IPS 2 #2)
Banjir merupakan masalah besar di seluruh penjuru negeri. Banjir telah meresahkan masyarakat di kota-kota besar di Indonesia, khususnya di Banyuwangi.
Pemerintah daerah dan bupati kewalahan dalam mengatasi banjir yang melanda daerahnya. Kerusakan akibat banjir sangatlah banyak. Kerugian harta benda dan jatuhnya korban jiwa merupakan dampak dari banjir,
Beberapa tahun sebelumya, penanganan banjir sangat tidak efektif, seperti halnya pengerukan sungai; penanaman pohon di hulu serta penataan sungai dari penggusuran bangunan warga yang tinggal di area sungai.
Pengerukan sungai oleh Dinas Pekerjaan Umum nampaknya cukup memberikan hasil yang positif. Namun, sungai utama yang di keruk itu belum mampu menampung debit air yang banyak karena selain dari jalur sungai utama, juga mendapat kiriman dari sungai-sungai kecil yang menyuplai aliran air sehingga debit air di sungai utama menjadi banyak kemudian meluap sampai ke jalan-jalan serta merendam banyak rumah warga sekitar sungai.
Pemerintah daerah melakukan penanaman pohon keras di hulu guna mencegah debit air yang dilalui sungai tidakterlalu deras. Namun, nyatanya pohon-pohon di daerah hulu banyak ditebang oleh masyarakat sekitar untuk diambil kayunya, di jual, atau di ambil untuk kepentingan adat.
Penataan kembali daerah sungai (relokasi sungai) dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dan dinas terkait untuk melebarluaskan sisi sungai. Awalnya,daerah sepanjang sungai adalah perumahan dan permukiman penduduk miskin yang dipindah di daerah yang lain.Alasannya, banyak penduduk yang bermukim di sana banyak membuang sampah di sungai yang menyebabkan banjir serta menjadi pemandangan yang tidak enak dilihat oleh masyarakat setempat.
Penanganan banjir juga tidak berhenti di situ. Pemerintah daerah telah menyiapkan terobosan teknologi baru yaitu biopori yang digunakan untuk menyerap air. Adapun pengertian biopori sendiri menurut Griya (2008) adalah lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk akibat aktivitas organisme dalam tanah seperti cacing ataupun pergerakan akar-akar tanah. Lubang tersebut akan berisi udara dan menjadi jalur mengalirnya air. Jadi, air hujan tidak langsung masuk ke saluran pembuangan air, tetapi meresap ke dalam tanah melalui lubang tersebut.
Biopori yang dimaksud adalah Biopori B-73 buatan dari Jepang yang baru. Biopori ini sudah diterapkan di negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan. Biopori B-73 memiliki keunggulan yaitu penempatan yang mudah, tidak perlu banyak ruang dan tempat, serta harga yang terjangkau.
Biopori ini diterapkan oleh Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, untuk mengatasi banjir di pusat kota Banyuwangi. Untuk kawasan sungai dan kanal hanya melalui upaya relokasi dan penanaman tanaman keras untuk mencegah dinding sungai rusak serta mencegah banjir akibat luapan air. Teknologi biopori ini sudah lulus uji analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) sejak 2016 lalu. Adapun yang dipilih adalah biopori ini yaitu teknologi yang baru dan penyempurna biopori-biopori sebelumnya yang mungkin ada kerusakan-kerusakan dan tidak dapat bertahan lama.
Jadi, menurut argumen saya, teknologi ini sangat efektif untuk meredam banjir akibat genangan air.
